Oleh: Diena Rifa’ah
Apa kabar, Pak?
Semoga selalu dilimpahkan rezeki
atasmu dalam keberkahan, dan diberikan kesehatan padamu dalam kebaikan. Tentu kau memerlukan
kekuatan yang begitu besar untuk dapat mengemban amanah berat di pundakmu di
dunia ini, pun untuk mempertanggungjawabkannya di akhirat nanti.
Pak, tulisan ini mungkin hanya
sebuah coretan sederhana yang jauh dari ilmiah.
Ia juga hanyalah suara hati dari seseorang yang bukan siapa-siapa dan tidak pun membawa berita yang baru. Namun, semoga
kesederhanaan ini tidak mengurangi kebenaran atas apa yang akan tulisan ini
sampaikan padamu.
Hari itu sebenarnya biasa saja. Hari
pertama dalam penanggalan bulanDesember yang seharusnya sama dengan hari-hari
lainnya. Namun, ia menjadi tidak biasa saat isu itu berhembus dengan kencang. Berita pun menyebar kemana-mana seolah
tiada yang dapat membendungnya. Ini tentang sebuah program yang
dilakukan pemerintah terkait dengan hari AIDS sedunia. Namanya, Pekan Kondom Nasional.
Sungguh, mendengar judulnya saja sudah
membuat bulu kuduk bergidik.Ada apa dengan benda itu? Mengapa ia harus
dibuatkan kegiatan dalam tujuh hari penuh?
Hingga sakit kepala saya
memikirkannya, Pak. Logika saya yang dangkal ini tetap tidak dapat menangkap
kesesuaian antara mencegah HIV/AIDS dengan kegiatan bagi-bagi ‘pengaman’ itu.
Bahkan dari beberapa artikel yang saya baca, nyatanya penularan penyakit mengerikan itu masih saja bisa terjadi meski
menggunakan pengaman. Sementara fakta bahwa meningkatnya penularan lewat
hubungan seksual pun ternyata melonjak dibanding jalur-jalur penularan lainnya.
Bukankah itu mengerikan? Tapi tetap saja, membagi-bagikannya kepada khalayak
ramai tetap tidak dapat masuk dalam logika saya. Apalagi saat tempat dibaginya
ternyata di antaranya adalah kampus-kampus tempat orang-orang intelek berada,
yang meski tidak diberitahu pun nampaknya sudah cukup tau tentang hal itu.
Sementara, tidak semua dari mereka adalah orang-orang yang terjerumus pada seks
bebas. Bukankah, dengan membagikan hal itu justru bisa menjadi celah mereka
menemukan inspirasi untuk justru melakuka tindakan dosa itu?
Maka belum lagi reda pening itu,
jantung ini rasanya ikut terpacu begitu cepat saat beberapa testimoni dan saksi
di lokasi kejadian menyatakan langsungbeberapa hal yang bersebrangan dari apa
yang diprogramkan.
“Tiba-tiba ada yang
datang membagikan-bagikan sesuatu. Tanpa ada informasi apa-apa, ternyata
sepaket kondom itu sudah ada di tangan saya!”
“Mereka masuk ke kampus saya,
membagi-bagikan kondom sambil berujar –entah serius atau hanya bercanda,
‘Dicobasama pacarnya yah...’”
Duhai Bapak yang terhormat, apa yang
sedang coba kita undang? Apa yangsedang kita nantikan? Adzab-Nya-kah? Naudzubillah...
Pak, saya pernah berkesempatan untuk
berpraktik kerja pada sebuah apotek.Di sana dapat saya amati bahwa memang
‘benda itu’ adalah sesuatu yang wajar saja untuk digunakan, tentu oleh
orang-orang yang memang berhak untuk menggunakannya. Dan para pembelinya
rata-rata, bahkan meski mereka memang berhak, namun tetap saja ada rasa malu
pada wajahnya. Entah ditutup dengan helm, atau bergegas ingin segera membayar
dan pergi. Apalagi tentu orang-orangyang memang ingin menggunakannya untuk
maksiat, tentu akan lebih canggung lagi! Maka masih ada rasa malu, Pak!
Setidaknya masih ada rasa malu yang menjaga seseorang untuk mengurungkan niat
bermaksiatnya saat benda itu tidak dengan mudah diakses oleh siapa saja. Maka
saat ia kemudian diobral bahkan dibagi-bagikan dengan gelontoran dana negara
yang tidak sedikit jumlahnya,tentu tidak heran jika begitu banyak yang
mempertanyakan ini semua! Telah nyataadzab pada kaum yang durhaka sebelum kita,
tidakkah kita memperhatikan?
Miris sekali rasanya, Pak. Saat
kemaksiatan dibukakan pintunya begitu luas,sementara kebaikan seolah dihalangi rapat-rapat. Baru saja kami turutb ergembira
atas dibolehkannya saudari-saudari muslimah kami para polwan untuk mengenakan
jilbab, tiba-tiba kabar pembatalannya datang, dengan alasan tidaka danya
anggaran. Saudari-saudari kami itu, Pak, mereka juga para muslimah yang berkewajiban
menaati perintah Rabbnya. Telah diperintahkan dalam ajaran agama kita untuk menutup aurat, maka nampaknya
tidak masuk diakal saat ternyata justru negara (yang begitu kami banggakan
karena menjadi berpenduduk mayoritas muslim di dunia) ini yang melarangnya!
Saudari-saudari kami itu, Pak, merekahanya ingin beribadah dengan bebas
sebagaimana bebasnya mereka shalat, puasa,dan berzakat. Mereka hanya ingin
menjalankan tugasnya kepada negara tanpa harus mendurhakai tugas yang telah
diberikan pula oleh Allah. Lalu mengapa mereka dilarang dan dihalang-halangi?
Dimana hak asasi manusia itu? Dimana mereka yang memprotes pelarangan rok mini
itu? Dimana toleransi itu? Ataukah bahkan Negara ini telah tega bersikap
diskrimintif bahkan pada umat mayoritasnya sendiri?
Pak, masih ada waktu untuk
memperbaiki semuanya. Masih ada masa untukbersujud taubat dengan menyungkur
pada-Nya. Tidakkah kita takut pada azab yang bukan hanya menimpa pelaku maksiat
namun akan merata pada seluruh penduduknegeri? Jika mungkin hati kita telah
beku dan tidak lagi bersemangat atas kabar gembira bagi orang-orang yang takwa,
maka mungkin memang saatnya kita menetapi hati dan menghadirkan lagi ketakutan
kita pada-Nya. Begitu mudah kitadilenyapkan-Nya dengan kekuasaan-Nya. Bahwa
begitu mudah bagi-Nya mengganti kita dengan generasi yang lebih tahu berterima
kasih.
Duhai Bapak Presiden yang budiman,
semoga hidayah Allah senantiasa dicurahkan kepada kita semua. Aamiin.
“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa
sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumidengan hak?
Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakankamu dan mengganti(mu) dengan
makhluk yang baru.” (QS. Ibrahim [14]:19)